Warna yang Tak Pernah Benar-Benar Kumiliki
16/07/26
Ada seorang anak laki-laki,
berjalan tanpa arah di lorong hari.
Tawanya terdengar,
namun jiwanya telah lama sunyi.
Ia berharap semesta mengirimkan seseorang,
bukan untuk menyembuhkan luka,
melainkan sekadar menemani,
agar hidupnya memiliki lebih banyak warna.
Lalu datanglah seorang perempuan,
senyumnya hangat seperti pagi,
tutur katanya selembut hujan,
membuat dunia yang kelabu perlahan bercahaya.
Ia pikir,
mungkin inilah jawaban dari semua doa
yang selama ini hanya berani dipanjatkan dalam diam.
Namun harapan tak selalu berpihak.
Perempuan itu telah lama menyimpan nama lain
di dalam hatinya.
Ia begitu ramah kepada semua orang,
hingga perhatian yang diterima
tak pernah benar-benar berarti istimewa.
Anak laki-laki itu akhirnya mengerti,
bahwa tidak semua kehangatan
adalah tanda untuk menetap.
Maka ia memilih mundur,
meski diam-diam masih membawa
sekeping rasa yang tak sempat tumbuh.
Waktu terus berjalan.
Hingga suatu hari,
ia bertemu seseorang yang berbeda.
Bukan sehangat mentari,
melainkan setenang langit sebelum hujan.
Perempuan itu tertutup.
Tatapannya menyimpan banyak rahasia,
dan hatinya dipagari oleh
kecewa yang belum selesai.
Tak mudah mendekat.
Tak mudah dipercaya.
Setiap langkah terasa seperti mengetuk pintu
yang mungkin tak akan pernah dibukakan.
Namun entah mengapa,
anak laki-laki itu tetap bertahan.
Bukan karena ia ingin menjadi pahlawan,
bukan pula karena ingin dipilih.
Ia hanya ingin membuktikan
bahwa ada seseorang
yang datang bukan untuk pergi.
Jika nanti pintu itu benar-benar terbuka,
ia akan masuk tanpa membawa janji berlebihan,
hanya ketulusan
dan kesabaran yang tak meminta balasan.
Sebab ia telah belajar,
bahwa cinta bukan selalu tentang memiliki,
melainkan tentang tetap menjadi baik,
meski berkali-kali dipertemukan
dengan hati yang memilih orang lain
atau takut mempercayai siapa pun lagi.
Dan jika pada akhirnya
takdir tetap tidak memihaknya,
setidaknya dunia akan tahu,
bahwa pernah ada seorang anak laki-laki
yang hanya ingin hidupnya lebih berwarna,
namun harus belajar
melukis pelangi seorang diri.
Komentar
Posting Komentar