Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Antara Surabaya dan Jakarta

16/04/26 Di kota asing yang penuh suara klakson dan debu, ia berdiri seorang anak laki-laki yang memaksa dewasa terlalu cepat menyembunyikan lelah di balik senyum yang tak pernah utuh, dan menggenggam mimpi di sela-sela keringat yang jatuh. Surabaya memberinya kerja, memberinya kerasnya hidup dan arti bertahan, tapi tak pernah mampu menggantikan hangatnya kenangan yang tertinggal di Jakarta. Ia rindu... rindu jalanan yang dulu ia lewati tanpa beban, rindu lampu-lampu kota yang terasa seperti pelukan, rindu suara yang dulu memanggil namanya pulang. Di sini, malam terasa lebih sunyi, meski ramai tetap terasa sepi, karena yang ia cari bukan sekadar tempat, tapi perasaan yang dulu membuatnya utuh . Kadang ia menatap langit, berharap bintang yang sama juga dilihat dari sana, seolah jarak tak sejauh ini jika rindu bisa menjembatani rasa. Ia bertahan bukan karena kuat, tapi karena tahu, ada mimpi yang harus ia bawa pulang suatu hari nanti. Dan sampai saat itu tiba, ia akan terus berjalan di k...

Rumah Yang Berasap dan Pahit

06/04/26 Di sudut malam yang tak pernah benar-benar hangat, ia duduk sendiri, ditemani sunyi yang akrab . Langkahnya pulang tak pernah punya alamat, hanya arah yang selalu sama meja, gelas, dan asap. Kopi di tangannya bukan sekadar pahit, ia adalah pelarian dari rasa yang lebih getir. Setiap tegukan seperti bisikan lirih, “kau masih ada, meski tak ada yang menunggu di akhir.” Sebatang rokok menyala di antara jari, menghanguskan waktu perlahan tanpa arti. Asapnya naik, seperti harapan yang dulu tinggi, lalu hilang… tanpa jejak, tanpa kembali. Ia pernah punya tempat untuk pulang, peluk yang menenangkan, suara yang mengundang. Namun kini, semua tinggal bayang, dan malam adalah satu-satunya yang tetap datang. Secangkir Kopi dan Sebatang Rokok jadi rumah yang setia, tak bertanya, tak menghakimi luka yang ada. Di sanalah ia tinggal, hari demi hari yang sama, menumpuk rindu… tanpa tujuan ke mana . Dan saat dunia bertanya, “kau pulang ke mana?” ia hanya tersenyum, menyesap pahit yang tersisa “...

Tempat Pulang yang Tak Pernah Ada

02/04/26 Di sudut malam yang terlalu sunyi, ia duduk bersama pikirannya sendiri. Tak ada suara selain detak lelah, dan napas yang terasa makin berat. Ia bukan tak kuat menjalani hari, hanya saja... terlalu banyak yang dipendam sendiri. Cerita-cerita kecil yang ingin dibagi, berubah jadi beban yang tak terlihat tapi menghantui. Ia rindu seseorang yang mau mendengar, bukan sekadar ada, tapi benar-benar sabar . Tempat ia bisa bercerita tanpa takut dihakimi, tanpa merasa harus selalu terlihat baik-baik saja tiap hari. Tentang lelah yang tak sempat ia jelaskan, tentang kecewa yang ia telan diam-diam. Tentang harapan yang perlahan memudar, dan tentang dirinya yang mulai terasa asing dan hambar. Ia tak butuh dunia yang ramai, cukup satu orang yang benar-benar peduli. Yang mau duduk, walau tanpa solusi, yang penting... tetap di sini. Namun hingga malam kembali berganti, ia masih sendiri ditemani sepi. Dengan harapan sederhana yang tak kunjung datang punya tempat pulang… dalam bentuk seseorang.