Bunga Matahari
25/02/25
Di sudut taman yang diam,
ia berdiri sendiri di antara pagi dan sepi.
Tak lagi mencari nama yang dulu ia panggil,
tak lagi menunggu pesan yang tak kembali.
Di tangannya, setangkai bunga matahari
kuningnya seperti matahari kecil yang jatuh ke bumi.
Ia menatapnya lama,
seolah ada hangat yang tersisa di dunia ini.
“Aneh,” bisiknya lirih,
“kenapa kau tetap indah meski hanya diam?”
Tak seperti hati manusia
yang retak saat harapan perlahan tenggelam.
Ia menyukai bunga itu bukan karena rupanya,
melainkan caranya menghadap cahaya.
Meski akarnya terkurung tanah,
wajahnya selalu memilih terang.
Dan ia, lelaki dengan patah paling sunyi,
belajar dari kelopak yang tak pernah mengeluh:
bahwa hancur bukan akhir dari mekar,
bahwa kehilangan tak harus mematikan tumbuh.
Maka ia pulang membawa bunga matahari itu,
menaruhnya di atas meja.
Untuk pertama kalinya sejak luka,
ia percaya bahwa "indah masih ada,
meski cinta telah tiada."
Komentar
Posting Komentar