Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Janji yang Menggantung di Antara Kita

 27/02/26 Aku pernah berjanji bukan sekadar kata yang jatuh dari bibir, tapi sumpah yang kutanam dalam hari-hariku bahwa selamanya akan kupilih kau , bahwa pulangku hanya satu namamu . Aku telah mengupayakan dunia dengan tangan yang tak selalu kuat, mengumpulkan mimpi satu per satu seperti orang merakit rumah dari serpihan harapan yang kau jatuhkan. Aku belajar menjadi tenang saat kau badai. Menjadi sabar saat kau ragu. Menjadi tetap saat kau pergi lalu kembali seolah cinta ini stasiun tanpa jadwal. Kau bilang ingin tapi langkahmu selalu setengah. Kau genggam tanganku dengan jari yang tak pernah utuh. Kau tatap aku seperti rumah yang ingin dihuni tapi tak pernah kau tempati. Dan aku, lelaki yang telah menaruh harapan selamanya di pundakmu, akhirnya mengerti: tak semua janji patah karena waktu sebagian hancur karena satu hati berjalan dan satu hati diam di persimpangan. Jika suatu hari kau benar-benar ingin, aku harap bukan lagi aku yang kau cari. Sebab aku pernah memilihmu dengan s...

Yang Tak Bisa Kembali

27/02/25 Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi menyimpan namamu di sela-sela doa yang tak lagi kau dengar. Kau telah pergi seperti senja yang jatuh terlalu cepat, meninggalkan langitku setengah terang, setengah kehilangan. Rindu ini tak pernah belajar pulang, ia duduk di bangku kenangan mengulang tawamu, seakan waktu bisa diputar oleh air mata yang sabar menetes. Andai cinta cukup untuk memanggilmu kembali, aku sudah melakukannya ribuan kali. Tapi dunia tak menukar takdir dengan sepasang tangan yang menunggu. Kini aku hanya lelaki yang mencintaimu dari jarak yang abadi menjaga sisa hangatmu di hati yang tahu kau takkan pernah bisa kumiliki lagi.

Bunga Matahari

 25/02/25 Di sudut taman yang diam, ia berdiri sendiri di antara pagi dan sepi. Tak lagi mencari nama yang dulu ia panggil , tak lagi menunggu pesan yang tak kembali . Di tangannya, setangkai bunga matahari kuningnya seperti matahari kecil yang jatuh ke bumi. Ia menatapnya lama, seolah ada hangat yang tersisa di dunia ini. “Aneh,” bisiknya lirih, “kenapa kau tetap indah meski hanya diam?” Tak seperti hati manusia yang retak saat harapan perlahan tenggelam. Ia menyukai bunga itu bukan karena rupanya, melainkan caranya menghadap cahaya. Meski akarnya terkurung tanah, wajahnya selalu memilih terang. Dan ia, lelaki dengan patah paling sunyi, belajar dari kelopak yang tak pernah mengeluh: bahwa hancur bukan akhir dari mekar, bahwa kehilangan tak harus mematikan tumbuh. Maka ia pulang membawa bunga matahari itu, menaruhnya di atas meja. Untuk pertama kalinya sejak luka, ia percaya bahwa " indah masih ada, meski cinta telah tiada."