Janji yang Menggantung di Antara Kita

 27/02/26


Aku pernah berjanji

bukan sekadar kata yang jatuh dari bibir,

tapi sumpah yang kutanam dalam hari-hariku

bahwa selamanya akan kupilih kau,

bahwa pulangku hanya satu namamu.

Aku telah mengupayakan dunia

dengan tangan yang tak selalu kuat,

mengumpulkan mimpi satu per satu

seperti orang merakit rumah

dari serpihan harapan yang kau jatuhkan.

Aku belajar menjadi tenang

saat kau badai.

Menjadi sabar

saat kau ragu.

Menjadi tetap

saat kau pergi lalu kembali

seolah cinta ini stasiun tanpa jadwal.

Kau bilang ingin

tapi langkahmu selalu setengah.

Kau genggam tanganku

dengan jari yang tak pernah utuh.

Kau tatap aku

seperti rumah yang ingin dihuni

tapi tak pernah kau tempati.

Dan aku,

lelaki yang telah menaruh harapan

selamanya di pundakmu,

akhirnya mengerti:

tak semua janji patah karena waktu

sebagian hancur

karena satu hati berjalan

dan satu hati diam di persimpangan.

Jika suatu hari kau benar-benar ingin,

aku harap bukan lagi aku yang kau cari.

Sebab aku pernah memilihmu

dengan seluruh kemungkinan hidupku

dan kau memilih ragu

dengan seluruh kesempatanmu.

Kini janji itu tetap hidup,

tapi bukan lagi tentang kita:

melainkan tentang aku

yang belajar

melepaskan selamanya

yang tak pernah benar-benar ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Matahari

Antara Surabaya dan Jakarta