Menunggu yang Tak Lagi Menoleh
09/04/26 Aku pernah percaya, bahwa waktu bisa menjadi jembatan yang mengantarkanmu kembali pulang. Maka aku memilih menunggu. Bukan sehari, bukan sebulan, melainkan selama hatiku masih sanggup menyebut namamu dalam diam. Aku menyaksikanmu dari kejauhan, berharap luka-lukaku sembuh, berharap senyumku kembali utuh, dan diam-diam berharap kamu menjadi alasan di balik kebahagiaan itu. Namun semesta rupanya memiliki cerita lain. Saat kau akhirnya pulih, saat tawamu kembali terdengar indah, aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan Kau memang telah menemukan bahagia, tetapi bukan bersamaku. Ada seseorang yang kini menggenggam tanganmu, menjadi tempat pulangmu, menjadi alasan matamu berbinar seperti yang dulu selalu kuimpikan. Dan aku? Aku hanya lelaki yang masih berdiri di peron yang sama, menatap kereta yang telah lama berangkat tanpa pernah menyisakan kursi untukku. Aku tidak membencimu. Bagaimana mungkin? Bukankah sejak awal yang kuinginkan hanyalah melihatmu bahagia? Meski ternyata ...