Menunggu yang Tak Lagi Menoleh

09/04/26


Aku pernah percaya,

bahwa waktu bisa menjadi jembatan

yang mengantarkanmu kembali pulang.

Maka aku memilih menunggu.

Bukan sehari, bukan sebulan,

melainkan selama hatiku masih sanggup

menyebut namamu dalam diam.

Aku menyaksikanmu dari kejauhan,

berharap luka-lukaku sembuh,

berharap senyumku kembali utuh,

dan diam-diam berharap

kamu menjadi alasan di balik kebahagiaan itu.

Namun semesta rupanya memiliki cerita lain.

Saat kau akhirnya pulih,

saat tawamu kembali terdengar indah,

aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan

Kau memang telah menemukan bahagia,

tetapi bukan bersamaku.

Ada seseorang yang kini menggenggam tanganmu,

menjadi tempat pulangmu,

menjadi alasan matamu berbinar

seperti yang dulu selalu kuimpikan.

Dan aku?

Aku hanya lelaki yang masih berdiri

di peron yang sama,

menatap kereta yang telah lama berangkat

tanpa pernah menyisakan kursi untukku.

Aku tidak membencimu.

Bagaimana mungkin?

Bukankah sejak awal yang kuinginkan

hanyalah melihatmu bahagia?

Meski ternyata kebahagiaan itu

menuntunmu menjauh dariku.

Kini aku mengerti,

tidak semua penantian berakhir dengan pertemuan.

Ada yang hanya mengajarkan keikhlasan,

bahwa mencintai seseorang terkadang berarti

merelakan dirinya dicintai oleh orang lain.

Jadi pergilah,

hiduplah dengan bahagiamu yang baru.

Aku akan menyimpan kisah kita

sebagai bagian dari perjalanan yang pernah indah.

Sebab meski namamu tak lagi memanggilku pulang,

aku tetap bersyukur pernah menjadikanmu

alasan untuk bertahan,

meski pada akhirnya

aku harus belajar hidup tanpa harapan untuk kembali memilikimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Matahari

Janji yang Menggantung di Antara Kita

Yang Tak Bisa Kembali