Tempat Pulang yang Tak Pernah Ada

02/04/26


Di sudut malam yang terlalu sunyi,

ia duduk bersama pikirannya sendiri.

Tak ada suara selain detak lelah,

dan napas yang terasa makin berat.

Ia bukan tak kuat menjalani hari,

hanya saja... terlalu banyak yang dipendam sendiri.

Cerita-cerita kecil yang ingin dibagi,

berubah jadi beban yang tak terlihat tapi menghantui.

Ia rindu seseorang yang mau mendengar,

bukan sekadar ada, tapi benar-benar sabar.

Tempat ia bisa bercerita tanpa takut dihakimi,

tanpa merasa harus selalu terlihat baik-baik saja tiap hari.

Tentang lelah yang tak sempat ia jelaskan,

tentang kecewa yang ia telan diam-diam.

Tentang harapan yang perlahan memudar,

dan tentang dirinya yang mulai terasa asing dan hambar.

Ia tak butuh dunia yang ramai,

cukup satu orang yang benar-benar peduli.

Yang mau duduk, walau tanpa solusi,

yang penting... tetap di sini.

Namun hingga malam kembali berganti,

ia masih sendiri ditemani sepi.

Dengan harapan sederhana yang tak kunjung datang

punya tempat pulang…

dalam bentuk seseorang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Matahari

Janji yang Menggantung di Antara Kita

Antara Surabaya dan Jakarta