Rumah Yang Berasap dan Pahit
06/04/26
Di sudut malam yang tak pernah benar-benar hangat,
ia duduk sendiri, ditemani sunyi yang akrab.
Langkahnya pulang tak pernah punya alamat,
hanya arah yang selalu sama meja, gelas, dan asap.
Kopi di tangannya bukan sekadar pahit,
ia adalah pelarian dari rasa yang lebih getir.
Setiap tegukan seperti bisikan lirih,
“kau masih ada, meski tak ada yang menunggu di akhir.”
Sebatang rokok menyala di antara jari,
menghanguskan waktu perlahan tanpa arti.
Asapnya naik, seperti harapan yang dulu tinggi,
lalu hilang… tanpa jejak, tanpa kembali.
Ia pernah punya tempat untuk pulang,
peluk yang menenangkan, suara yang mengundang.
Namun kini, semua tinggal bayang,
dan malam adalah satu-satunya yang tetap datang.
Secangkir Kopi dan Sebatang Rokok jadi rumah yang setia,
tak bertanya, tak menghakimi luka yang ada.
Di sanalah ia tinggal, hari demi hari yang sama,
menumpuk rindu… tanpa tujuan ke mana.
Dan saat dunia bertanya, “kau pulang ke mana?”
ia hanya tersenyum, menyesap pahit yang tersisa
“aku pulang ke hal-hal sederhana
yang tak pernah pergi… meski semua sudah tiada.”
Komentar
Posting Komentar