Antara Surabaya dan Jakarta

16/04/26


Di kota asing yang penuh suara klakson dan debu,

ia berdiri seorang anak laki-laki yang memaksa dewasa terlalu cepat

menyembunyikan lelah di balik senyum yang tak pernah utuh,

dan menggenggam mimpi di sela-sela keringat yang jatuh.

Surabaya memberinya kerja,

memberinya kerasnya hidup dan arti bertahan,

tapi tak pernah mampu menggantikan

hangatnya kenangan yang tertinggal di Jakarta.

Ia rindu...

rindu jalanan yang dulu ia lewati tanpa beban,

rindu lampu-lampu kota yang terasa seperti pelukan,

rindu suara yang dulu memanggil namanya pulang.

Di sini, malam terasa lebih sunyi,

meski ramai tetap terasa sepi,

karena yang ia cari bukan sekadar tempat,

tapi perasaan yang dulu membuatnya utuh.

Kadang ia menatap langit,

berharap bintang yang sama juga dilihat dari sana,

seolah jarak tak sejauh ini

jika rindu bisa menjembatani rasa.

Ia bertahan

bukan karena kuat,

tapi karena tahu,

ada mimpi yang harus ia bawa pulang suatu hari nanti.

Dan sampai saat itu tiba,

ia akan terus berjalan di kota ini,

sambil diam-diam menyimpan Jakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Matahari

Janji yang Menggantung di Antara Kita