Terlambat Mensyukuri

30/07/26



Seorang anak laki laki

yang pernah menggenggam semesta

tanpa pernah sadar

bahwa semestanya sedang memeluknya erat.

Ada seseorang

yang mencintainya tanpa syarat,

menguatkannya saat rapuh,

menemani saat dunia terasa sunyi,

dan tetap memilih bertahan

meski berkali-kali hatinya terluka.

Namun, rasa memiliki

sering membuat manusia lupa bersyukur.

Anak laki-laki itu mulai terbiasa.

Menganggap hadirnya sebagai sesuatu yang pasti.

Mengira cinta sebesar itu

tak akan pernah benar-benar pergi.

Lalu datang malam-malam yang sepi.

Kesepian membisikkan hal-hal yang salah.

Ia mencari hangat di pelukan lain,

mencari tawa dari seseorang yang asing,

berharap kekosongan di dadanya hilang,

tanpa sadar sedang menghancurkan rumah

yang selama ini selalu menunggunya pulang.

Satu keputusan.

Satu kesalahan yang begitu besar.

Dan dalam sekejap,

orang yang paling tulus itu memilih pergi.

Tak ada lagi pesan selamat pagi.

Tak ada lagi suara yang bertanya,

"Sudah makan?"

Tak ada lagi pelukan yang mampu

membungkam segala lelah.

Barulah ia mengerti...

Yang hilang bukan hanya seseorang,

melainkan tempat pulang.

Kini ia hidup bersama penyesalan.

Setiap sudut kota mengingatkannya pada kenangan.

Setiap lagu terdengar seperti doa

yang tak pernah sempat ia ucapkan.

Setiap malam menjadi hukuman

karena bayangan itu tak pernah benar-benar pergi.

Andai waktu mau berbalik,

ia akan memilih tetap tinggal.

Ia akan belajar bersyukur.

Ia akan memeluk lebih erat,

mendengarkan lebih lama,

dan menjaga hati yang dulu

begitu percaya kepadanya.

Namun hidup tak mengenal kata andai.

Kini yang tersisa hanyalah harapan

yang perlahan memudar bersama waktu.

Ia masih menunggu...

Bukan karena yakin akan dimaafkan,

tetapi karena hatinya tak pernah benar-benar pergi dari orang itu.

Dan di antara ribuan manusia yang ia temui,

tak ada satu pun yang mampu mengisi ruang kosong

yang dulu ditempati oleh seseorang

yang pernah mencintainya dengan seluruh hati.

Kesepian yang dulu membuatnya berpaling,

kini kembali sebagai hukuman yang tak berujung.

Anak laki-laki itu akhirnya belajar...

Bahwa kehilangan paling menyakitkan

bukan ketika seseorang meninggalkan kita.

Melainkan ketika kita sendiri

yang menggenggam erat tangannya,

lalu melepaskannya...

dan baru menyadari nilainya

saat yang tersisa hanyalah rindu,

penyesalan,

serta doa-doa sunyi yang berharap,

"Tolong... pulanglah sekali lagi."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Matahari

Yang Tak Bisa Kembali