Warna yang Tak Pernah Benar-Benar Kumiliki
16/07/26 Ada seorang anak laki-laki, berjalan tanpa arah di lorong hari. Tawanya terdengar, namun jiwanya telah lama sunyi. Ia berharap semesta mengirimkan seseorang, bukan untuk menyembuhkan luka, melainkan sekadar menemani, agar hidupnya memiliki lebih banyak warna. Lalu datanglah seorang perempuan, senyumnya hangat seperti pagi, tutur katanya selembut hujan, membuat dunia yang kelabu perlahan bercahaya. Ia pikir, mungkin inilah jawaban dari semua doa yang selama ini hanya berani dipanjatkan dalam diam. Namun harapan tak selalu berpihak. Perempuan itu telah lama menyimpan nama lain di dalam hatinya. Ia begitu ramah kepada semua orang, hingga perhatian yang diterima tak pernah benar-benar berarti istimewa. Anak laki-laki itu akhirnya mengerti, bahwa tidak semua kehangatan adalah tanda untuk menetap. Maka ia memilih mundur, meski diam-diam masih membawa sekeping rasa yang tak sempat tumbuh. Waktu terus berjalan. Hingga suatu hari, ia bertemu seseorang yang berbeda. Bukan sehangat menta...