Postingan

Yang Selalu Ada , Namun Bukan Pilihan

 21/08/26 Aku datang bukan untuk merebutmu, apalagi memaksa langkahmu berpaling. Aku hanya seorang laki-laki yang tanpa sadar menemukan nyaman di antara senyum dan cerita-ceritamu. Aku tahu, hatimu sudah dimiliki seseorang. Seseorang yang masih sering menoleh ke belakang, masih menyimpan bayang-bayang masa lalu, namun entah mengapa, kau memilih tetap bertahan di sana. Kau bilang semuanya akan baik-baik saja. Kau mencoba memahami, mencoba percaya, mencoba melihat sisi baik dari hubungan yang berkali-kali membuatmu terluka. Sementara aku, yang datang tanpa janji besar, hanya mencoba menjadi tempat di mana tawamu tidak perlu dipaksakan. Aku mendengarkan cerita-ceritamu, menemani hari-harimu yang berat, mencoba mengembalikan senyum ketika dunia membuatmu lelah. Aku tidak pernah menjanjikan bahwa aku adalah yang terbaik. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa kamu pantas mendapatkan seseorang yang memilihmu tanpa ragu. Tapi mungkin, kebahagiaan yang kubawa belum cukup untuk membuatmu pergi. ...

Terlambat Mensyukuri

30/07/26 Seorang anak laki laki yang pernah menggenggam semesta tanpa pernah sadar bahwa semestanya sedang memeluknya erat. Ada seseorang yang mencintainya tanpa syarat, menguatkannya saat rapuh, menemani saat dunia terasa sunyi, dan tetap memilih bertahan meski berkali-kali hatinya terluka. Namun, rasa memiliki sering membuat manusia lupa bersyukur. Anak laki-laki itu mulai terbiasa. Menganggap hadirnya sebagai sesuatu yang pasti. Mengira cinta sebesar itu tak akan pernah benar-benar pergi. Lalu datang malam-malam yang sepi. Kesepian membisikkan hal-hal yang salah. Ia mencari hangat di pelukan lain, mencari tawa dari seseorang yang asing, berharap kekosongan di dadanya hilang, tanpa sadar sedang menghancurkan rumah yang selama ini selalu menunggunya pulang. Satu keputusan. Satu kesalahan yang begitu besar. Dan dalam sekejap, orang yang paling tulus itu memilih pergi. Tak ada lagi pesan selamat pagi. Tak ada lagi suara yang bertanya, "Sudah makan?" Tak ada lagi pelukan yang m...

Warna yang Tak Pernah Benar-Benar Kumiliki

16/07/26 Ada seorang anak laki-laki, berjalan tanpa arah di lorong hari. Tawanya terdengar, namun jiwanya telah lama sunyi. Ia berharap semesta mengirimkan seseorang, bukan untuk menyembuhkan luka, melainkan sekadar menemani, agar hidupnya memiliki lebih banyak warna. Lalu datanglah seorang perempuan, senyumnya hangat seperti pagi, tutur katanya selembut hujan, membuat dunia yang kelabu perlahan bercahaya. Ia pikir, mungkin inilah jawaban dari semua doa yang selama ini hanya berani dipanjatkan dalam diam. Namun harapan tak selalu berpihak. Perempuan itu telah lama menyimpan nama lain di dalam hatinya. Ia begitu ramah kepada semua orang, hingga perhatian yang diterima tak pernah benar-benar berarti istimewa. Anak laki-laki itu akhirnya mengerti, bahwa tidak semua kehangatan adalah tanda untuk menetap. Maka ia memilih mundur, meski diam-diam masih membawa sekeping rasa yang tak sempat tumbuh. Waktu terus berjalan. Hingga suatu hari, ia bertemu seseorang yang berbeda. Bukan sehangat menta...