Postingan

Warna yang Tak Pernah Benar-Benar Kumiliki

16/07/26 Ada seorang anak laki-laki, berjalan tanpa arah di lorong hari. Tawanya terdengar, namun jiwanya telah lama sunyi. Ia berharap semesta mengirimkan seseorang, bukan untuk menyembuhkan luka, melainkan sekadar menemani, agar hidupnya memiliki lebih banyak warna. Lalu datanglah seorang perempuan, senyumnya hangat seperti pagi, tutur katanya selembut hujan, membuat dunia yang kelabu perlahan bercahaya. Ia pikir, mungkin inilah jawaban dari semua doa yang selama ini hanya berani dipanjatkan dalam diam. Namun harapan tak selalu berpihak. Perempuan itu telah lama menyimpan nama lain di dalam hatinya. Ia begitu ramah kepada semua orang, hingga perhatian yang diterima tak pernah benar-benar berarti istimewa. Anak laki-laki itu akhirnya mengerti, bahwa tidak semua kehangatan adalah tanda untuk menetap. Maka ia memilih mundur, meski diam-diam masih membawa sekeping rasa yang tak sempat tumbuh. Waktu terus berjalan. Hingga suatu hari, ia bertemu seseorang yang berbeda. Bukan sehangat menta...

Menunggu yang Tak Lagi Menoleh

09/04/26 Aku pernah percaya, bahwa waktu bisa menjadi jembatan yang mengantarkanmu kembali pulang. Maka aku memilih menunggu. Bukan sehari, bukan sebulan, melainkan selama hatiku masih sanggup menyebut namamu dalam diam. Aku menyaksikanmu dari kejauhan, berharap luka-lukaku sembuh, berharap senyumku kembali utuh, dan diam-diam berharap kamu menjadi alasan di balik kebahagiaan itu. Namun semesta rupanya memiliki cerita lain. Saat kau akhirnya pulih, saat tawamu kembali terdengar indah, aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan Kau memang telah menemukan bahagia, tetapi bukan bersamaku. Ada seseorang yang kini menggenggam tanganmu, menjadi tempat pulangmu, menjadi alasan matamu berbinar seperti yang dulu selalu kuimpikan. Dan aku? Aku hanya lelaki yang masih berdiri di peron yang sama, menatap kereta yang telah lama berangkat tanpa pernah menyisakan kursi untukku. Aku tidak membencimu. Bagaimana mungkin? Bukankah sejak awal yang kuinginkan hanyalah melihatmu bahagia? Meski ternyata ...

Antara Surabaya dan Jakarta

16/04/26 Di kota asing yang penuh suara klakson dan debu, ia berdiri seorang anak laki-laki yang memaksa dewasa terlalu cepat menyembunyikan lelah di balik senyum yang tak pernah utuh, dan menggenggam mimpi di sela-sela keringat yang jatuh. Surabaya memberinya kerja, memberinya kerasnya hidup dan arti bertahan, tapi tak pernah mampu menggantikan hangatnya kenangan yang tertinggal di Jakarta. Ia rindu... rindu jalanan yang dulu ia lewati tanpa beban, rindu lampu-lampu kota yang terasa seperti pelukan, rindu suara yang dulu memanggil namanya pulang. Di sini, malam terasa lebih sunyi, meski ramai tetap terasa sepi, karena yang ia cari bukan sekadar tempat, tapi perasaan yang dulu membuatnya utuh . Kadang ia menatap langit, berharap bintang yang sama juga dilihat dari sana, seolah jarak tak sejauh ini jika rindu bisa menjembatani rasa. Ia bertahan bukan karena kuat, tapi karena tahu, ada mimpi yang harus ia bawa pulang suatu hari nanti. Dan sampai saat itu tiba, ia akan terus berjalan di k...